AA, Nietzsche..

Posted on February 18, 2014

0


Beberapa waktu yang lalu saya membeli harian Kompas. Di rubrik Opini, AA menuliskan idenya soal asuransi bencana. Sepintas, ide itu tak bermasalah. Wajar jika orang sekaliber AA memiliki pemikiran yang menarik seperti itu.

Problemnya datang beberapa hari kemudian. AA dituding melakukan plagiarisme. Artikel yang ditulisnya ternyata mirip dengan artikel karya HS dan MK yang sudah pernah dimuat di Kompas tahun 2006. Tudingan ini jelas serius. Saya sempat tak percaya. Sampai kemudian saya membaca sendiri artikel HS dan MK yang dimaksud. Ternyata, kedua artikel tersebut memang luar biasa mirip. Menurut artikel yang saya baca hari ini, hanya 20 kata yang berbeda di antara dua artikel tersebut.

AA pun mengajukan pengunduran diri. Ia menjelaskan bahwa plagiarisme itu terjadi karena kesalahannya. Menurutnya, ia salah mengirimkan dokumen yang ada di dalam komputer pribadinya. Sempat ada kecurigaan apakah plagiarisme ini merupakan kesalahan ghost writer atau asisten AA. Tapi AA menyanggah. Plagiarisme itu kesalahannya.

Berangkat dari bentuk kesalahan itu, kita bisa lihat bahwa AA tak sungguh-sungguh berniat melakukan plagiarisme. Kesalahan AA adalah kesalahan akibat kecerobohan dan ketidaktelitian. Masalahnya, seperti yang ditekankan AA sendiri di pernyataannya, AA hidup dalam lingkungan akademik yang menuntut integritas dan kejujuran. Oleh karena itu, untuk menjaga kredibilitas rumah akademiknya, ia mengajukan pengunduran diri.

Di sini, sikap kita mungkin terbelah dua. Sikap pertama ingin agar AA tidak mundur. Berdasarkan sebuah petisi di Change,org, kita bisa lihat sejumlah argumen pendukungnya. Misalnya, AA cuma melakukan plagiarisme di koran harian. Di Tempo, mahasiswa tidak ingin AA mundur karena AA merupakan dosen favorit. Sebuah artikel tulisan civitas akademik FISIPOL juga bilang bahwa AA jangan ‘dihakimi’ seumur hidup. Jangan karena 800 kata, seluruh karir akademiknya terpaksa tutup buku.

Saya punya pendapat sedikit berbeda. Dan saya ingin berangkat dari dua asumsi: (1) AA orang yang baik (2) AA tidak berniat melakukan plagiarisme. Kedua asumsi ini saya ambil dari kesan saya terhadap pemberitaan terhadap dia, juga dari cerita orang-orang tentangnya. Terhadap kesan-kesan itu, meski saya tak tahu langsung pribadinya, saya memilih untuk bersepakat.

Berdasarkan dua asumsi yang saya yakini di atas, kita bisa simpulkan bahwa AA benar-benar orang baik. Dia adalah manusia yang bukan rata-rata. Tentu saja AA tetaplah manusia. Tapi, menurut saya, AA bisa dikatakan di atas rata-rata. Pendapat saya ini berangkat dari asumsi Nietzschean soal konsep Ubermensch. Bila diilustrasikan, manusia adalah titik yang berada di antara hewan dan Ubermensch, ‘sang manusia super’. Ubermensch adalah manusia yang ‘memakan lemon ketika hidup memberinya lemon’. Ia tak akan menolaknya, mengubahnya jadi jus atau bahkan melemparnya kembali pada hidup. Ubermensch adalah manusia yang mengatakan ‘Ya’ pada setiap dinamika hidup. Bukan karena Ubermensch lemah sehingga ia hanya bisa pasrah mengatakan ‘Ya’. Justru karena Ubermensch kuat maka ia tak pernah menolak kehidupan, segetir apapun isinya.

AA___mungkin (saya beri garis bawah agar mereka yang mengenal pribadi AA bisa menilainya)___adalah tipikal manusia yang lebih dekat ke Ubermensch daripada manusia Indonesia rata-rata. Kesan-kesan yang diperoleh kebanyakan orang pada AA sebenarnya memverifikasi hal ini. Kita___yang tidak se-Ubermensch dia___akan mendongak pada AA: melihatnya sebagai entitas yang ‘di atas’ kita. Dan karenanya, kita punya kesan-kesan baik terhadapnya. Logikanya, andaikata karakter AA biasa saja atau setara dengan kita, kita tak akan repot-repot membelanya. Karena karakternya adalah karakter yang diam-diam ingin kita capai (karena baik, karena super), maka kita pun menaruh perhatian padanya. Ringkasnya, di mata kita___entah Anda menyadarinya atau tidak___AA memang ada ‘di atas’ kita.

Jika kita menyepakati hal itu, maka AA tak boleh dinilai dengan standar kita. Sekali lagi, saya terpaksa menyinggung Nietzsche. Nietzsche membagi moralitas jadi dua macam, slave morality dan master morality. Semakin kuat seseorang, ia akan mengikuti master morality. Slave morality tentunya hanya bagi orang yang lebih lemah. Berbeda dengan karakteristik Ubermensch tadi, slave morality tak akan mengatakan ‘Ya’ pada hidup. Ia berusaha menghindari sikap yang menantang hidup. Alih-alih mengatakan ‘Ya’, orang yang lebih lemah akan mencari seribu dalih, dan seratus apologi untuk mengafirmasi sikapnya. Dia jadi orang yang penuh alasan. Dia adalah orang dengan sejuta kata ‘Tapi…’.

Berdasarkan pernyataan AA, AA bukanlah orang yang gemar berkata ‘Tapi’. Ia mengklarifikasi bahwa kesalahannya bukan kesalahan plagiarisme murahan. Ia mengutarakan bahwa kesalahannya adalah kesalahan ketidaktelitian semata. Meski ia menyatakan tidak melakukan plagiarisme, ia tidak lantas mencari pembenaran atas perbuatannya. Ia tetap menyatakan mundur. Ia berkata ‘Ya’ dalam hal ini. Kitalah yang mencarikan kata ‘Tapi’ untuknya. Kita menilai kondisi AA dengan perspektif kita.

Dugaan saya, pernyataan AA untuk tetap mundur walau sudah mendudukkan permasalahan bertujuan menjaga kehormatan dirinya. Dan dengan begitu, adalah sebuah tindakan yang aneh ketika kita mencari terlalu banyak ‘Tapi’ untuknya. Mengapa? Kita mengakui AA sebagai orang terhormat. Namun, di sisi lain, kita tak memberi ruang baginya untuk menjaga kehormatannya. Kita adalah kawan-kawan Sokrates yang mengajak Sokrates kabur dari hukuman mati. Dan Sokrates, dengan begitu cool, menolak ajakan itu. Ia akhirnya memilih dieksekusi mati dengan cara meminum racun.

Maka, saya berpendapat bahwa AA harus diberi kesempatan untuk menerima konsekuensi perbuatannya, sebagaimana yang ia inginkan. Semakin baik seseorang, semakin ia tak boleh dimaklumi. Semakin buruk seseorang, semakin ia boleh dimaklumi. Hal ini seperti paradoks dosa: jika Anda tahu yang Anda lakukan salah, maka Anda berdosa; jika Anda tidak tahu, Anda justru tak berdosa. Artinya, semakin kaya pengetahuan seseorang, semakin besar kesiapan dan keharusannya untuk menerima konsekuensi. Mudahnya, semakin tinggi level seseorang, pemakluman makin ‘nggak level’ buatnya. Oleh karena itu, kalimat ‘dia juga manusia biasa’ agak kurang bisa saya sepakati.

Sebagai penutup, saya akan memberi tips pada Anda yang ingin membantah tulisan ini. Tulisan ini berangkat dari asumsi Nietzschean bahwa AA adalah manusia ‘di atas rata-rata’. Maka, pemakluman menjadi mungkin jika kalimat ‘AA adalah manusia di atas rata-rata’ dibuktikan kesalahannya. Mana yang harus kita pilih: (1) mengakui ‘ke-biasa-an’ seseorang agar ia bisa dimaklumi; atau (2) mengakui ‘ke-luar-biasa-an’ orang dengan konsekuensi menolak pemakluman atasnya. Saya akan mengembalikan itu pada pembaca. Andai bisa, saya ingin mengakui ‘ke-luar-biasa-an’ seseorang dan di saat yang bersamaan memaklumi kesalahannya. Tetapi, jika demikian, kita akan mereduksi ksatria jadi penjaga pintu semata..

Tentu saja tulisan ini hanya menyinggung satu aspek kecil. Dalam pengambilan keputusan soal AA nantinya, masih ada pertimbangan seperti efektivitas pembelajaran kampus atau pentingnya menjaga kekuatan akademik kampus. Dua hal itu memang tak disinggung di sini karena tulisan ini cuma mengomentari pembelaan yang sifatnya mencari pembenaran atas tindakan AA___yang saya pikir tidak tepat. Pada akhirnya, tulisan ini hanya ingin berpendapat bahwa kita harus membiarkan seorang ksatria menjaga kehormatannya sebagai ksatria. Tak kurang. Tak lebih. Jika rupanya kerajaan masih memerlukan jasanya, itu akan jadi satu hal berbeda yang bukan merupakan ruang lingkup tulisan ini.**

 

Advertisements
Posted in: Uncategorized